Melepas dengan Ikhlas, Merindu dengan Tenang

    Siapa bilang ikhlas berarti melupakan? 

    Terkadang, di balik ketulusan hati untuk menerima kenyataan, masih ada sekelumit rindu yang bersembunyi. menurutku ini adalah perasaan yang sangat manusiawi, seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Dalam perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada pilihan sulit, antara bertahan dalam kesedihan atau melangkah maju dengan ikhlas.

    Ikhlas itu keputusan yang kita ambil dalam keadaan sadar untuk menerima sesuatu apa adanya, iya... tanpa adanya penyesalan. Sementara itu, rindu adalah perasaan alami yang muncul ketika kita merindukan seseorang. Kedua hal ini memang tampak bertolak belakang sifatnya,namun tanpa kita sadari kedua hal ini bisa hadir bersamaan dalam hati kita.

    Pernah ngga sih kita itu ngerasa kayak udah ikhlas atas 'kehilangan'? tapi anehnya, diatas perasaan yang kita anggap ikhlas itu, masih ada aja air mata yang menetes ketika tanpa sengaja teringat kenangan indah dari orang tersebut. Nah, ini yang namanya konflik batin, nggapapa ini tuh manusiawi. Satu sisi, kita pengen melupakan, namun disisi lain hati masih enggan melepaskan.

    Menerima kenyataan bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu dan usaha untuk bisa benar-benar ikhlas. Tapi, dengan berusaha menerima perasaan RINDU sebagai bagian dari hidup, kita akan merasa lebih lega. Kuncinya, jangan berlarut-larut, Coba untuk mengalihkan perhatian pada hal-hal positif, menjaga hubungan sosial, atau melakukan kegiatan yang disukai.

    Kenangan adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Meski menyakitkan, kenangan indah bisa menjadi sumber kekuatan dan inspirasi. Dengan menghargai kenangan, kita bisa membawa pelajaran berharga dari masa lalu untuk masa depan yang lebih baik.

    Ikhlas dan rindu adalah dua emosi yang saling melengkapi. Tidak ada yang salah dengan merindukan  seseorang. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi perasaan tersebut. Dengan menerima kenyataan dan menghargai proses, kita bisa menemukan kedamaian batin dan terus melangkah maju.

Aku Ikhlas, tapi kangennya masih ada. 


Dhea Calmut

Selasa, 16.39

Yogyakarta, 01 Oktober 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sri Tanjung 2022

Surat Yang Tak Pernah Sampai