Surat Yang Tak Pernah Sampai
Malam ini aku kembali duduk di meja yang sama, dengan lampu kuning berbentuk bunga yang setia menemani. Kipas angin dikamarku terus berputar, membiarkan angin yang dingin menyelimutiku, seolah ingin ikut membaca baris demi baris yang kutulis untukmu.
Aku memegang pena ini dengan ragu, seperti seorang musafir yang tak tahu arah pulang. Ada begitu banyak yang ingin kusampaikan, namun seakan setiap kata berlomba-lomba untuk sembunyi. Mereka seperti bintang di langit malam, terlihat jelas namun terlalu jauh untuk kuraih. Selalu ada jeda antara keinginanku menulis dan ketakutan bahwa kau tak akan pernah benar-benar memahami.
Mungkin aku terlalu pengecut untuk mengirimkan surat ini. Atau mungkin aku hanya tak ingin mengganggu ketenangan yang sudah kau temukan. Jadi, kubiarkan tinta ini menari di atas kertas, tanpa tujuan, tanpa kepastian apakah kau akan membacanya. Setiap huruf yang kutulis seakan mengikatku pada kenangan yang tak pernah benar-benar usai. Aku menulis bukan untuk meminta, bukan untuk mengingatkan, tapi hanya untuk menenangkan hati yang tak pernah berani bicara.
Pernahkah kau merasakan hampa yang hadir justru di tengah keramaian? Aku merasakannya setiap kali namamu melintas di pikiranku. Di antara tawa-tawa yang bergema di sekelilingku, ada satu suara yang selalu hilang, suara yang selalu kurindukan tanpa perlu disebutkan namanya.
Kau tahu, aku selalu berpura-pura kuat di depan semua orang. Tapi saat malam tiba, ketika dunia mulai terlelap, semua topeng itu perlahan runtuh. Dan di sinilah aku, sendirian, bersama bayanganmu yang tak pernah benar-benar pergi. Mungkin itulah alasan mengapa aku terus menulis; karena setiap kata yang kutulis adalah caraku memanggilmu, meski aku tahu kau tak akan pernah mendengar.
Ada saat-saat di mana aku berharap bisa membekukan waktu, menjaga momen-momen kecil kita tetap hidup dalam ingatanku. Ingatkah kau pada malam-malam yang kita habiskan tanpa bicara, hanya ditemani oleh detak jam yang tak pernah lelah berdetak? Kita saling menatap, seolah-olah dunia luar tak pernah ada. Aku merindukan keheningan itu—keheningan yang penuh makna, tanpa perlu kata-kata.
Tapi kini, malam-malam itu hanyalah bagian dari cerita yang kusimpan rapat-rapat di sudut hatiku. Mereka hidup di antara lipatan kertas dan tinta yang memudar, menunggu untuk dibaca kembali, namun bukan olehmu. Kau mungkin telah melangkah jauh, menemukan cerita baru tanpa diriku di dalamnya. Dan aku... aku hanya tetap di sini, menulis surat yang tak pernah sampai, berharap suatu hari nanti semesta akan memberiku keberanian untuk mengirimkannya.
Hingga saat itu tiba, aku akan terus menyimpan surat-surat ini sebagai pengingat bahwa aku pernah mengenal seseorang yang membuatku percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan luka yang tak terlihat.
Malam ini, aku tutup surat ini dengan satu tarikan napas yang berat. Aku biarkan setiap kalimat yang tak terucap menjadi rahasia kecil di antara kita. Jika kau mendengar bisikan angin di malam hari, mungkin itu adalah caraku untuk mengatakan bahwa aku masih di sini, menunggumu di tengah kesunyian.
Selamat malam, entah di mana pun kau berada.
Dengan hati yang tak pernah benar-benar mampu melupakan,
Aku.
Yogyakarta, 14 November 2024
22.18
Komentar
Posting Komentar