"Membangun Jiwa di Tengah Kesederhaaan"

    Hidup di Pondok Pesantren merupakan perjalanan untuk refleksi spiritual secara mendalam. Setiap hari dimulai dengan gedoran tongkat pengurus di setiap pintu-pintu kamar dengan diiringi suara abah yai yang terdengar nyaring dari speaker pondok "tangi tangi tangi, tahajud" kata beliau memanggil santri-santri dan semua penghuni pondok pesantren untuk bersujud bersama di sepertiga malam terakhir. dalam kesunyian pagi, sering kali saya merenung, bagaimana lingkungan sesederhana ini mampu membawa ketenangan hati yang sulit saya temukan di tempat lain. Rutinitas ibadah yang di jalankan bersama, mulai dari sholat berjamaah hingga dzikir bersama, bukan sekedar ritual, melainkan tali yang mempererat hubungan kami dengan Sang Pencipta.

    Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika kami ngaji kitab ihya' ulumuddin setiap hari kamis ba'da subuh dengan di ampu abah yai secara langsung, entah kenapa setiap kali ngaji dengan abah yai itu rasanya seperti sedang muhasabah diri (refleksi diri). Disetiap perkataan yang beliau ucapkan dalam majlis tersebut, kami selalu merasa tersindir, terpukul. Kami sebagai santri nya beliau pun sontak mengakui kekhilafan, memohon ampunan, dan menumbuhkan niat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik. dari sinilah saya merasakan bahwa spiritualitas bukan hanya tentang hubungan pribadi dengan Allah SWT. tetapi juga tentang kebersamaan dalam komunitas yang saling mendukung dalam kebaikan.

    Pondok pesantren bukan hanya tempat bagi santri untuk belajar ilmu agama, tetapi juga tempat bagi para pengajar untuk terus memperbaiki diri. Setiap interaksi antara pengajar dengan santri itu menimbulkan kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan. Ada kalanya  santri yang masih muda dan penuh semangat justru malah menguji batas kesabaran, tetapi disanalah ujian spiritual sesungguhnya dimulai. Bagaimana para pengajar bisa tetap tenang, membimbing mereka dengan penuh kasih sayang, sambil menjaga hati tetap bersih dari amarah.

    Tantangan spiritual bagi seorang pengajar juga hadir ketika kesibukan mengajar dan tugas administratif mengalihkan fokus. Namun, justru dalam momen-momen tersebut, pengajar seharusnya menemukan bahwa kesederhanaan hidup di pondok pesantren menjadi pengingat bahwa kedekatan kita dengan Allah SWT. tak membutuhkan kemewahan. Cukup dengan hati yang ikhlas dan waktu sejenak untuk mengingat-Nya. Pondok pesantren menjadi ruang spiritual yang menenangkan, meski dalam kesibukan sehari-hari.

Wallahua'lam Bisshowab


23:57 Yogyakarta, 15 September 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sri Tanjung 2022

Surat Yang Tak Pernah Sampai

Melepas dengan Ikhlas, Merindu dengan Tenang