Tentang Ayah, yang Selalu Punya Cara Untuk Dikenang
Yogyakarta, 10 Oktober 2025
0:27 WIB
Agustus tahun ini terasa berbeda. Langit seolah ikut diam, dan waktu mendadak jadi lebih lambat dari biasanya. Hari itu, aku kehilangan seseorang yang tak pernah benar-benar siap untuk kuikhlaskan ayahku.
Bukan karena aku tak tahu bahwa setiap yang hidup pasti akan kembali, tapi karena aku masih ingin sedikit lebih lama bersandar di pundaknya, mendengar suaranya yang selalu menenangkan, dan melihat senyum hangatnya yang khas itu.
Ayah selalu jadi sosok yang sederhana, tapi dalam kesederhanaannya ada banyak pelajaran hidup yang diam-diam tertanam di diriku. Dari caranya menyapa orang dengan ramah, aku belajar tentang rendah hati. Dari cara beliau menghadapi masalah tanpa banyak keluh, aku belajar tentang keteguhan. Dan dari caranya mencarikan aku teman atau kenalan baru, aku sadar… ternyata cinta ayah tidak selalu ditunjukkan lewat kata, tapi lewat perhatian kecil yang diam-diam menjaga.
Kini, setiap kali aku merasa lelah atau kehilangan arah, aku teringat nasihatnya yang singkat tapi membekas: “Lakukan yang terbaik, Nak. Tuhan tahu kamu berusaha.”
Kalimat itu seperti doa yang terus hidup, menuntunku melangkah bahkan setelah beliau pergi.
Ayah mungkin sudah tidak lagi di dunia ini, tapi kisah dan teladannya akan selalu ada dalam setiap langkahku. Karena ternyata, cinta seorang ayah tidak pernah benar-benar hilang ia hanya berubah bentuk, menjadi doa yang menyelimuti dari kejauhan.
Sekarang, setiap kali aku berdoa, selalu ada nama ayah di antara bisikan yang paling lirih. Aku tahu, beliau sudah tenang di tempat terbaik yang Allah sediakan. Tapi rasanya, bagian dari diriku masih sering menoleh ke belakang mencari bayangan beliau di setiap langkahku.
Terima kasih, Yah… untuk cinta yang sederhana tapi tulus, untuk segala perjuangan yang tak pernah engkau ceritakan. Aku akan terus melanjutkan hidup dengan doa dan nilai-nilai yang kau titipkan. Semoga kelak kita bertemu lagi di tempat di mana tidak ada lagi air mata, hanya bahagia yang abadi.
Komentar
Posting Komentar