Percakapan yang Tertunda Bertahun-tahun

dari Dhea 22th untuk Dhea 15th

Hai, Dhea.

Gimana Kabar?

Aku tahu pertanyaan itu terdengar aneh. Yaa Gimana yaa, masa aku bertanya kabar kepada diriku sendiri? Tapi percaya deh, udah laaaama banget aku pengen ngobrol sama kamu. Terlalu lama, bahkan mungkin bertahun-tahun.

Aku ingin duduk di sampingmu, mendengarkan semua cerita yang belum sempat kau ceritakan kepada siapa pun. Tentang ketakutan-ketakutan yang kau sembunyikan di balik senyum. Tentang mimpi-mimpi yang kau simpan rapat-rapat karena takut dianggap terlalu tinggi.

Aku tahu, di usia lima belas tahun, kamu sering memikirkan masa depan.

Kamu penasaran akan menjadi seperti apa dirimu nanti. Kamu bertanya-tanya apakah semua usaha yang dilakukan hari ini akan membuahkan hasil. Kamu khawatir tidak bisa menjadi anak yang membanggakan orang tua. Kamu takut mengecewakan banyak orang.

Aku masih ingattt bangetttt dulu kita pengennnn banget jadi dokter yaa dhe... hehe, maaf kalau sekarang melenceng. tapi isokeeeyyyy, semua tetap baik2 aja.

Kalo aja waktu itu aku bisa datang dan menemuimu, mungkin aku akan menggenggam tanganmu dan berkata,

"Tenang, tidak semua akan berjalan sesuai rencanamu. Tapi kamu akan baik-baik saja."

Hidup yang akan kamu jalani tidak selalu mudah.

Akan ada hari-hari ketika kamu merasa saaaaaaangat lelah. Ada saat-saat ketika kamu harus menerima kenyataan yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Ada kehilangan yang akan mengubah banyak hal dalam hidupmu.

Dan jujur saja, sampai hari ini pun aku masih merindukannya.

Ada beberapa orang yang tidak pernah benar-benar pergi dari hati kita. Waktu hanya mengajarkan cara hidup berdampingan dengan rindu itu.

Dulu kamu mungkin berpikir bahwa orang dewasa memiliki semua jawaban. Nyatanyaaa..... ngga juga kok.

Aku yang sekarang masih sering bingung. Masih sering takut. Masih sering menangis diam-diam ketika keadaan terasa terlalu berat. (hehe,, jangan diketawain pliss).

Ternyata menjadi dewasa bukan tentang memiliki semua jawaban.

Menjadi dewasa adalah tetap melangkah meskipun tidak tahu apa yang menunggu di depan.

Tapi ada kabar baik yang ingin kusampaikan.

Kamu tumbuh menjadi seseorang yang kuat.

Bukan kuat karena tidak pernah menangis, melainkan karena selalu memilih bangkit setelahnya.

Kamu akan bertemu banyak orang baik yang membantu langkahmu. Kamu akan belajar banyak hal. Kamu akan mengenal dunia yang lebih luas dari yang pernah kamu bayangkan.

Kamu akan menjadi seorang pengajar.

Kamu akan berdiri di depan anak-anak, membimbing mereka belajar, mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur'an, dan tanpa sadar menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Kamu juga akan belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk hal-hal besar.

Kadang kebahagiaan hadir dalam bentuk pesan singkat dari seseorang yang peduli.

Dalam senyum seorang murid yang akhirnya bisa membaca dengan lancar.

Dalam doa-doa yang diam-diam dikabulkan Allah setelah sekian lama ditunggu.

Dalam perjalanan pulang.

Dalam secangkir kopi hitam.

Dalam momen sederhana yang dulu sering luput untuk disyukuri.

Dhea, ada satu hal yang paling ingin kusampaikan padamu.

Jangan terlalu keras sama dirimu sendiri.

Aku tahu kamu sering merasa harus kuat.

Harus mampu.

Harus berhasil.

Harus menjadi kebanggaan semua orang.

Tapi dengerin aku.

Nggapapa kok sesekali lelah.

Nggapapa sesekali menangis.

Nggapapa kalo langkahmu lebih lambat dibanding orang lain.

Hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin.

Hidup adalah perjalanan panjang yang harus dijalani dengan hati yang tetap utuh.

Dan jika suatu hari kamu merasa sendirian, ingatlah satu hal.

Ada banyak doa yang mengiringimu.

Ada banyak orang yang mencintaimu.

Dan ada Allah yang tidak pernah meninggalkanmu, bahkan pada saat-saat ketika kamu merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Hari ini aku menulis surat ini bukan karena semua masalah telah selesai.

Bukan karena hidup sudah sempurna.

Melainkan karena aku ingin berterima kasih kepadamu.

Terima kasih karena tidak menyerah.

Terima kasih karena tetap berjalan ketika langkah terasa berat.

Terima kasih karena terus bertahan pada hari-hari yang sulit.

Karena tanpa keberanianmu di masa lalu, aku tidak akan sampai di titik ini hari ini.

Mungkin kita belum menjadi semua yang dulu kita impikan.

Masih ada doa yang belum terwujud.

Masih ada tujuan yang sedang diperjuangkan.

Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Tetapi lihatlah sejauh apa kita sudah melangkah.

Dan untuk itu, aku bangga padamu.

Sungguh.

Salam hangat dari Dhea 22th,

Dirimu yang masih berjuang, masih belajar, masih sering ngeluh, tapi masih memilih untuk melangkah. ❤️ 

Yogyakarta, 25 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sri Tanjung 2022

Surat Yang Tak Pernah Sampai

Melepas dengan Ikhlas, Merindu dengan Tenang